Universitas Muhammadiyah Purworejo
Ditulis pada tanggal 17 February 2017, oleh admin, pada kategori Berita Terbaru


Salah satu dari 6 (enam) ciri masyarakat berkemajuan menurut Haedar Nasir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah adalah masyarakatnya berilmu. Hal tersebut nampak pada masyarakat desa Kedunglo kecamatan Kemiri. Kehadiran KKN UMP tahun 2017 kelompok 22 di desa Kedunglo telah mendorong warganya menjadi masyarakat yang berkemajuan. Hal tersebut dibuktikan dengan keinginan masyarakat setempat untuk belajar tentang hidroponics. Keinginan tersebut disampaikan melalui mahasiswa KKN yang ada di desa Kedunglo. Adapun 5(lima) ciri masyarakat berkemajuan lainnya menurut Haedar Nasir, yaitu : (1) memiliki jiwa keagamaan yang kokoh; (2) memiliki akhlaq yang baik ; (3) kecemerlangan membangun dimensi muammalah; (4) ukhuwah Islamiyah; dan (5) selalu bersyukur pada Allah.
Setelah salah satu mahasiswa KKN berkonsultasi ke program studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Purworejo, akhirnya permintaan tersebut dipenuhi dan diselenggarakan pada hari Kamis 16 Februari 2017 di balai desa Kedunglo kecamatan Kemiri. Kegiatan ini dihadiri oleh perangkat desa, tokoh masyarakat setempat, anggota KWT dan PKK desa Kedunglo.
Program strudi Agribisnis mengambil kebijakan menerjunkan 4 (empat) orang dosen sebagai narasumber yaitu (1) Ir. Didik Widiyantono, M.Agr.; (2) Uswatun Hasanah, M.Sc.; (3) Dyah Panuntun Utami; M.Sc.; dan (4) Arta Kusumaningrum, M.Sc.. Kebijakan ini diambil karena prodi Agribisnis meyakini untuk meningkatkan kesejahteraan petani maka wawasan petani tidak dapat hanya ditingkatkan pada tataran on farm saja melainkan juga pada tataran off farm, yang terkait langsung dengan model atau komoditas usaha taninya.
Didik widiyantono menyampaikan tentang hidroponics dan aquaponics, yang berada pada tataran on farm, sedangan narasumber lainnya menyampaikan materi yang terkait pada kegiatan off farm antara lain tentang usaha tani, pemasaran, dan komunikasi dalam kelompok wanita tani.
Mengawali paparannya, Didik Widiyantono menyampaikan sekurang-kurangnya ada 4 alasan mengapa masyarakat mengembangkan hidroponics, yaitu : (1) menghemat 90 % penggunaan air; (2) dapat diusahakan sepanjang tahun tanpa tergantung musim; (3) terhindar dari segala penyakit yang bersumber dari tanah; dan (4) tanpa pestisida dan insektisida. Hal ini yang belum banyak dipahami masyarakat luas.
Sebelum dilanjutkan dengan paparan tentang aquaponics, disampaikan paparan tentang analisis investasi hidroponics oleh Uswatun Hasanah, M.Sc.. Hidroponics selama ini dianggap sebagai teknologi yang mahal. Oleh karena itu dipaparkan investasi untuk satu contoh model instalasi hidroponics kepada masyarakat desa Kedunglo.

Arbi Triyogi, mahasiswa prodi Agribisnis yang menjadi anggota KKN kelompok 22, memberikan contoh pembuatan instalasi hidroponics mulai dari yang paling sederhana menggunakan kotak stereoform bekas tempat buah impor.
Aquaponics adalah integrasi kolam ikan dengan budidaya tanaman. Teknologi aquaponics merupakan gabungan teknologi aquaculture dengan teknologi hidroponics dalam satu sistem untuk mengoptimalkan fungsi air dan ruang sebagai media pemeliharaan. Prinsip dasar yang bermanfaat adalah sisa pakan dan kotoran ikan yang berpotensi memperburuk kualitas air, dimanfaatkan sebagai pupuk untuk tanaman. Nutrisi pada sistem hidroponics dapat digantikan oleh air kolam dalam sistem aquaponics. Oleh karena itu wawasan tentang sistem aquaponics juga diberikan pada sesi berikutnya sebagai pembanding teknologi hidroponics.
Dyah Panuntun Utami, M.Sc. dan Arta Kusumaningrum, M.Sc. melengkapi paparan kali ini dari sisi off farm yaitu pemasaran dan komunikasi pertanian dalam kelompok wanita tani. Materi ini diberikan agar teknologi hidroponics dan aquaponics yang akan dikembangkan masyarakat desa Kedunglo dapat berkelanjutan. Seluruh rangkaian paparan dari prodi Agribisnis diakhiri dengan penyerahan nutrisi hidroponics sebanyak 1000 ltr kepada kelompok wanita tani desa Kedunglo kecamatan Kemiri.

Back to top